Sejarah Batik Laweyan

Batik adalah suatu proses pelekatan malam/lilin panas pada media kain katun atau kain sutra (kemudian berkembang pada media kayu, kulit, kaca dlsb) dengan motif tertentu sebagai teknik perintangan warna. Batik sebagai budaya adiluhung bangsa Indonesia konon berkembang sejak masa Kerajaan Mojopahit. Batik Laweyan sudah berkembang sebelum abad 15M semasa pemerintahan  Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) di Keraton Pajang. Saat itu para pengrajin batik laweyan mengembangkan industri batik tulis dengan pewarna alami sehingga desa laweyan menjadi kawasan penghasil batik tertua di Indonesia.

Masa Kejayaan Batik Laweyan

Seiring dengan pengKampoeng Batik Laweyanembangan teknik batik tulis ke teknik batik cap, industri batik laweyan mengalami masa puncak kejayaan pada era 1900 an semasa pergerakan Sarikat Dagang Islam (SDI) yang dipimpin oleh KH Samanhudi. Dibandingkan dengan batik tulis proses pembuatan batik cap relatif lebih mudah, lebih cepat dan lebih ekonomis sehingga harga jualnya lebih bisa diterima masyarakat pada umumnya. Pada masa itu muncullah nama Tjokrosoemarto, seorang tokoh juragan batik yang fenomenal, beliau memiliki industri batik terbesar di laweyan, jumlah omzetnya luar biasa yang didukung oleh pengrajin-pengrajin batik dari berbagai daerah di pulau Jawa. Wilayah pemasarannya tak hanya di dalam negeri, Tjokrosoemarto juga memasarkan batik ke manca negara, Beliau merupakan seorang eksportir batik pertamakali dari Indonesia. Selain Tjokrosoemarto ada banyak juragan batik yang sukses dan sekarang meninggalkan sisa-sisa kejayaannya berupa bangunan-bangunan rumah kuno artistik yang berasitektur jawa dan eropa di berbagai sudut Kampoeng Batik Laweyan.

Masa Kemunduran Batik Laweyan

Pada era 1970an mulai muncul teknik baru untuk membuat tekstil bermotif batik tanpa menggunakan lilin panas sebagai perintang warna namun menggunakan screen sablon. Saat itu “tekstil bermotif batik” dikenal sebagai batik printing, tentu saja penamaan itu keliru karena proses pembuatan printing dan batik itu berbeda. Alhamdulillah saat ini sudah ada peraturan dari pemerintah untuk melindungi konsumen dengan mengharuskan para penjual batik untuk memberikan informasi yang benar tentang kategori produk batik tulis, batik cap dan printing (tekstil bermotif batik). Dengan kemunculan produk printing yang relatif murah dan proses produksinya sangat cepat mulai menyaingi pemasaran batik tulis dan batik cap. Satu persatu industri batik di laweyan mengalami kebangkrutan dan pada tahun 2000an jumlah industri batik di laweyan hanya menyisakan kurang dari 20 saja.

Kebangkitan Kembali Batik Laweyan

Prihatin dengan kemerosotan jumlah industri batik laweyan, para tokoh masyarakat dan juragan batik laweyan berkumpul, bermusyawarah lalu bersepakat untuk membangun kembali industri batik laweyan dengan konsep kawasan wisata batik melalui organisasi Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) yang dideklarasikan pada tanggal 25 September 2004. Sejak saat itu Kampoeng Batik Laweyan mulai berbenah diri, membangun industri batik dan non batik dalam konsep pariwisata yang bersinergi dengan banyak pihak seperti Pemerintah, Perguruan Tinggi, ASITA, PHRI, LSM dlsb. Proses regenerasi secara bertahap menampakkan hasilnya, sekarang jumlah IKM dan UKM Batik Laweyan sudah meningkat menjadi lebih dari 80. Peningkatan kualitas batik juga terus dilakukan dengan bekerjasama pihak Pemerintah, Perguruan Tinggi dan LSM, salah satunya adalah mengikuti program Standar Nasional Indonesia (SNI). Untuk meningkatkan performa brand batik laweyan, FPKBL juga telah mendaftarkan merek batik kolektif¬† dengan nama Batik Heritage Laweyan di Kemenkumham. Berbagai ikhtiar inovasi terus dilakukan oleh FPKBL demi kemajuan Batik Laweyan pada khususnya dan kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya…