3 Fakta Menarik Tentang Masjid Laweyan Solo

3 Fakta Menarik Tentang Masjid Laweyan Solo

3 Fakta Menarik Tentang Masjid Laweyan Solo

masjid laweyan
Src damarku.id
  1. Masjid tertua di Solo

Ternyata tempat ibadah umat Islam yang tertua di Kota Solo, Jawa Tengah adalah Masjid Laweyan. Masjid Laweyan telah ada sebelum Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Masjid bersejarah ini berusia hampir lima ratus tahun. Masjid tertua di Solo ini merupakan masjid pertama di Kerajaan Pajang yang dibangun pada masa Djoko Tingkir sekitar tahun 1546.

Masjid Laweyan berlokasi di Jalan Liris Nomor 1, Belukan, Desa Pajang, Kecamatan Laweyan. Pemilik masjid ini adalah Kyai Ageng Henis. Oleh karena itu, masjid ini juga disebut sebagai Masjid Ki Ageng Henis. Kyai Ageng Henis adalah kakek dari Danang Sutowijoyo (pendiri Kerajaan Mataram Islam di Kotagede).

Masjid Laweyan didirikan di atas lahan seluas 162 meter persegi yang masih dalam kondisi terawat dengan baik. Seperti layaknya sebuah masjid, Masjid Laweyan berfungsi sebagai tempat untuk beribadah, kegiatan keagamaan, musyawarah, dan lain-lain.

masjid laweyan

  1. Masjid Laweyan dulunya adalah Pura

Keunikan dari Masjid Laweyan ini adalah bangunannya yang menyerupai Pura, dengan arsitektur yang istimewa dan terjaga keasliannya. Terdapat dua belas pilar utama yang terbuat dari kayu jati kuno yang masih tetap berdiri dengan kokoh dan terawat. Hingga saat ini, masih dapat ditemui beberapa pura yang masih berdiri di sekitaran Masjid Laweyan.

Awalnya bangunan masjid di depan Sungai Jenes ini merupakan sebuah pura untuk pemujaan umat Hindu. Dulunya di daerah Belukan (tempat Masjid Laweyan) ada seorang lurah yang bernama Ki Ageng Beluk. Ki Ageng Beluk ini dulunya beragama Hindu. Kemudian datanglah Ki Ageng Henis ke wilayah tersebut untuk menyebarkan ajaran Islam. Lambat laun Ki Ageng Beluk pun tertarik dengan ajaran Islam yang disebarkan oleh Ki Ageng Henis. Selanjutnya Ki Ageng Beluk ini memeluk Islam dan mewakafkan Pura untuk dijadikan sebagai tempat beribadah umat Islam.

 

  1.  Terdapat makam pendiri Masjid Laweyan, Ki Ageng Henis

Di kompleks Masjid Laweyan ini terdapat Makam Kyai Ageng Henis, seorang tokoh syiar Islam yang merupakan pemilik masjid ini. Kyai Ageng Henis merupakan kakek dari Paku Buwono II, penguasa Mataram Islam yang memerintah di Keraton Kartasura sebelum pindah ke Keraton Solo.

Adanya makam Kyai Ageng Henis dan beberapa kerabat dari Keraton Solo menjadi rujukan bagi banyak peziarah yang ingin berwisata religi di lingkungan makam di sekitar kompleks Masjid Laweyan. Aktivitas berziarah ini dibuka secara umum tanpa ada batasan waktu.

Masjid Laweyan memiliki sejarah penting yang patut untuk dipelajari. Hal tersebut terlihat dalam arsitektur uniknya dan keberadaan makam Ki Ageng Henis di sekitarnya. Masjid Laweyan adalah salah satu destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan, terutama bagi para penggemar wisata sejarah dan yang ingin berziarah di Kota Bengawan ini.

Referensi:

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5546807/ternyata-masjid-laweyan-solo-dulunya-pura-begini-ceritanya

 

 

 

 

Dari Pasar Kapas Menjadi Kampung Batik, Beginilah Sejarah Menarik Kampoeng Batik Laweyan

 Dari Pasar Kapas Menjadi Kampung Batik, Beginilah Sejarah Menarik Kampoeng Batik Laweyan

Menjadi salah satu sentra batik yang terkenal dan bahkan tertua di Indonesia, merupakan salah satu hal membanggakan dari Kmpoeng Batik Laweyan. Mendapat julukan tersebut pun dikarenakan Kawasan Kampoeng Batik Laweyan memiliki cerita sejarah yang cukup menarik. Terlihat dari banyak bangunan yang masih berdiri kokoh hingga saat ini, membuat suasana sejarah yang sangat kental apabila kita berada di Kawasan Kampoeng Batik Laweyan. Namun sejarah yang ada tak hanya sebatas bangunan peninggalan atau bahkan Sejarah batik, akan tetapi Sejarah menarik juga datang dari kondisi awal kampoeng Batik Laweyan itu sendiri, yang bahkan sampai sekarang masih banyak yang belum mengetahui nya.

Menjadi sebuah fakta menarik, rupanya sebelum menjadi Kawasan sentra batik yang seperti ini, rupanya Kawasan ini dulunya adalah pasar kapas. Sejarah yang dituliskan dari R. T Mlayadipuro, Kampoeng Batik Laweyan ini awalnya didirikan oleh Putra dari Kyai Ageng Sela dari keturunan Raja Brawijaya pada 1546 M, yaitu Kyai Ageng Hanis. Pada Sejarah tersebut dituliskan bahwa Kayi Ageng Henis ini pada zaman dulunya aktif mengajarkan teknik pembuatan batik kepada par santrinya. Dan tak hanya itu, salah satu pahlawan nasional KH Samanhudi pun dalam perjalanannya juga turut andil dalam berdirinya Kmapoeng Batik Laweyan ini. Beliau lah yang mencetuskan Serikat Dagang Islam, dan beliau pula yang aktif sebagai coordinator saudagar batik muslim dalam menghadapi serangan Belanda tempo lalu. Kampoeng Batik Laweyan ini dulunya banyak ditemukan pohon-pohon kapas. Dan dikatakan sebagai daerah penghasil kapas karena Kawasan nya pun dikatakan strategis untuk berdagang.

Pasar Laweyan dulunya Bernama Pasar Lawe atau yang berarti Pasar dari bahan baku yang sangat ramai. Tak hanya berasal dari daerah sendiri, namun bahan baku dakaps yang nantinya digunkan untuk pembuatan benang dn tenun ini juga dihasilkan dari beberapa desa sekitar, seperti Desa Pedan, Gawok dan Juwiring. Dalam perjalannya, berawal dari pasar kapas dan bahan baku yang cukup mahsyur, hal ini dikarenakan daerah ini berada pada jalur perdagangan komoditas yang strategis. Dan alhasil membuat daerah pasar lawe ini menjadi semakin maju dan berkembang.

ex Lokasi Pasar Laweyan yang berada di sekitar Tugu Batik Laweyan

Alih-alih merentas dari sebuah pasar bahan baku, akhirnya Kawasan yang awalnya terdapat banyak pohon kapas dan dibentuk sebagai daerah pasar bahan baku ini berubah juga menjadi Kampung Batik yang diresmikan pemerintah pada tahun 2004. Dan tak hanya ini, Kawasan Kampoeng Batik Laweyan juga dikatakan sebagai kawanasan sentra batik tertua di Indonesia. Bahkan sampai saat ini telah ada lebih dari 50 gerai batik tersebar di Kawasan Kampoeng Batik Laweyan, dan juga Kampoeng Batik Laweyan telah mempatenkan 250 motif batik asli dari daerah ini. Dan keran menjadi sentra batik, penduduk sekitar yang berada di Kawasan ini pun rata-rata juga menjadi seorang pembatik ataupun pengusaha batik. Sampai saat ini Kampoeng Batik Laweyan masih terus berjalan dan berkembang dan bahkan semakin eksis sebagai tempat wisata edukasi, industry dan Sejarah batik yang masih bertahan di Kota Solo.

Mengutip Kisah Inspirasi “Mbok Mase” , juragan Batik Perempuan Tersohor Di Kampoeng Batik Laweyan

Mengutip Kisah Inspirasi “Mbok Mase” , juragan Batik Perempuan Tersohor Di Kampoeng Batik Laweyan

Mengutip Kisah Inspirasi “Mbok Mase” , juragan Batik Perempuan Tersohor Di Kampoeng Batik Laweyan

Menjadi salah satu tempat wisata yang kaya akan Sejarah, Kampoeng Batik Laweyan dikenal memiliki banyak sekali cerita unik dan inspiratif di dalamnya. Karena usia dari Kampoeng Batik Laweyan juga yang tak cukup dikatakan belia, maka telah banyak Sejarah dan kisah-kisah menarik yang telah terjadi di dalamnya. Baik mulai dari awal terbentuk, proses kehidupannya, dan bahkan orang-orang maupun tokoh-tokoh pengrajin batik yang memiliki kisah hidup yang sangat inspiratif. Dari banyak nya tokoh pengrajin yang ada di Kampoeng Batik Laweyan, terdapat salah satu tokoh pengrajin yang menarik dan memiliki kisah hidup yang banyak memberikan inspirasi. Ya, sebut saja Mbok Mase.

Mbok Mase merupakan salah satu pengrajin dan bahkan juragan batik Perempuan yang cukup terkenal di Kampoeng Batik Laweyan. Memiliki pribadi yang ulet dan tanggung jawab, membuat kisah hidup dan kebiasaan dari Mbok Mase ini cukup menjadi sorotan. Bagaimana tidak, sejak awal Mbok Mase berada di Kampoeng batik Laweyan, beliau telah menjadi pengrajin batik dan membuka usahanya sendiri dengan penuh kegigihan. Istri dari Mas Nganten, yang menjadi julukan dari suami Mbok Mase ini mengelola usaha batik nya dengan sangat baik dan dinamis, namun tidak pernah meninggalkan perannya sebagai Perempuan dan seorang istri. Kebiasaan inilah yang menjadikan Mbok Mase seolah sebagi panutan para Perempuan yang ada di Kampoeng Batik Laweyan serta menjadi role model bagi para pengrajin batik Perempuan disana.

Bagai berepran ganda, walaupun dikenal sebagai juragan batik yang memimpin usahanya serta mengurusi keuangan usahanya sendiri, namun veteran perempuan Kampoeng Batik Laweyan ini tidak meninggalkan tugasnya sebagi seorang ibu rumah tangga. Dibalik kesohoran Mbok Mase yang seringkali dihormati banyak warga setempat, namun sebagi seorang istri pun Mbok Mase tetap menghormati Mas Nganten sebagai suaminya dengan baik.Walaupun alih-alih tak memiliki posisi yang sepadan dengan beliau dalam usaha batiknya, Mas Nganten justru minim peran dalam usaha batik nya sendiri. Namun, Mbok Mase masih sangat menyegani perannya dengan baik.

Menyelami setiap kebiasaan yang dilakukan, Mbok Mase turut aktif dalam mengurusi rumah tangga serta mendidik anaknya Hal-hal baik selalu beliau tularkan terkhusus kepada anak-anak perempuannya. Seperti halnya pelajaran hidup serta kebiasaan positif yang selalu ia lakukan pun turut diajarkan kepada anak didik perempuannya. Tata krama, sopan santun dan kegigihan menjadi tombak pelajaran yang ia berikan agar nantinya anak Perempuan bisa memiliki keuletan yang sama dengan dirinya, serta ia nantinya akan dapat mengelola dan meneruskan usaha batiknya dengan baik, sebaik pengelolaan ibunya. Anak perempuan ini kerap disebut Mas Rara. Harapannya, akan menjadi generasi perempuan penerus yang baik dan tangguh dalam melebarkan sayapnya dalam usaha batik di Kampoeng Batik Laweyan. Walaupun alih-alih berlalu , sebutan Mas Rara ini sudah jarang sekali kita dengar di Tengah Kampoeng Batik Laweyan.

Menjadi salah satu tokoh yang tersohor di Kampoeng batik Laweyan, tak akan lepas dari peninggalan yang ada. Jika kita bertanya tentang peninggalan dari Mbok Mase dan Mas Nganten sendiri yaitu adalah rumah-rumah besar yang bertajuk klasik yang ada di Kampoeng Batik Laweyan. Karena ukurannya yang cukup besar, rumah-rumah kuno klasik peninggalan milik Mbok Mase ini dikatakan seperti istana. Dan yang dulunya menjadi rumah-rumah para juragan batik, namun sekarang sering digunakan sebagai showroom batik untuk para tamu yang berdatangan di Kampoeng Batik Laweyan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Cukup inspiratif kisah dari Mbok Mase ini. Selain kebiasaan dan kegigihan yang bisa kita teladani, juga peninggalan-peninggalan rumah kuno yang masih dapat kita nikmati keindahannya jika kita bermain dan berkunjung ke Kampoeng Batik Laweyan.

Dikenal Sebagai Salah Satu Wisata Industri, Intip Produktifitas Batik Di Kampoeng Batik Laweyan

Dikenal Sebagai Salah Satu Wisata Industri, Intip Produktifitas Batik Di Kampoeng Batik Laweyan

Dikenal Sebagai Salah Satu Wisata Industri, Intip Produktifitas Batik Di Kampoeng Batik Laweyan

wisata industri batik laweyan

Berangkat dari pembentukan sentra batik yang sekaligus dijadikan sebagai salah satu kampung wisata yang berfokus dalam pelestarian batik tertua di Indonesia, rupanya kini Kampoeng Batik Laweyan pun beranjak tak hanya dijadikan sebagai wisata Sejarah ataupun wisata belanja, namun juga salah satu nya diajdikan sebagai wisata industry. Dan kegiatan ini sudah cukup lama diberlakukan di Kampoeng Batik Laweyan serta masih bertahan hingga saat ini.

wisata industri batik laweyan

Wisata Industri merupakan sebuah jenis wisata yang bertujuan untuk memperkenalkan dan memperlihatkan kegiatan industry yang ada di daerah tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama, wisata industri tak lepas dari aktivitas wisata yang ada pada suatu daerah. Dan rupanya wisata industry ini juga menjadi daya Tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ada. Karena tak hanya barang atau kesan saja yang akan didapatkan, namun juga pengalaman serta menilik secara langsung pula bentuk pengolahan suatu potensi yang ada di daerah tersebut. Dan dalam hal ini pula, wisata industry pun juga tak jauh dari hal edukasi, maka dari itu banyak pengunjung yang sekaligus ingin belajar dapat mengunjungi tempat-tempat wisata yang memiliki potensi wisata industri.

Kampoeng Batik Laweyan menjadi salah satunya. Bahwa rupanya sejak tahun 2004, selepas kebangkitan daerah Laweyan yang menjadi sentra batik yang ada di Kota Solo, di kampoeng Batik laweyan mulai untuk beralih dan berbenah tak hanya dijadikan sebagai sentra batik untuk berjualan, namun juga sebagi wisata industri dan edukasi. Dari keputusan serta perubahan tersebut, rupanya membuat sebuah terobosan baru terkhususnya dalam hal aktivitas pariwisata di Kampoeng Batik Laweyan. Karena pengunjung yang datang tidak hanya sekedar membeli beraneka ragam batik, namun mereka dapat sekaligus menyaksikan kegiatan membatik secara langsung di Kampoeng Batik Laweyan. Mulai dari tata cara membuat pola, teknik membatik seperti mencanting, batik cap, dan batik coret, kemudian ke tahap pewarnaan serta tahap finishing.

wisata industri batik laweyan

Pastinya, para pengunjung akan meras senang dan juga puas, karena belum tentu akan menyaksikan hal serupa di tempat lain. Dan apabila mereka sekaligus ingin mengikuti paket edukasi yang ada di kampoeng Batik Laweyan, mereka pun juga akan sekaligus akan membuat batik mereka masing-masing. Kemudian batik yang telah mereka buat tersebut, dapat mereka bawa pulang ke rumah untuk dijadikan sebagai oleh-oleh. Tak hanya tentang proses pembuatan batik saja, tapi pengunjung pun juga akan tetap disuguhkan dengan galeri batik di masing-masing gerai, dan mereka dapat melihat secara langsung macam-macam variasi motif batik, jenis batik serta hasil bentuk batik yang tak hanya di buat dalam bentuk busana pria ataupun wanita, namun juga kerajinan yang menarik serta hiasan yang cantik.

Wisata industri ini terbuka setiap hari, untuk pengunjung yang ingin melakukan kegiatan dan kunjungan dapat menghubungi call center melalui website atau media sosial Kampoeng Batik Laweyan. Dan jangan lupa untuk mengunjungi Kampoeng Batik Laweyan, mari bersama-sama kita melestarikan batik dengan belajar membatik di kampoeng Batik Laweyan.

Menjadi Oleh-oleh Khas Kampoeng Batik Laweyan, Beginilah Cerita Dibalik Apem Dudy Laweyan

Menjadi Oleh-oleh Khas Kampoeng Batik Laweyan, Beginilah Cerita iApem Dudy Laweyan 

apem dudy laweyan

Kota Solo dikenal sebagai salah satu kota dengan sejuta kuliner. Hal ini dikarenakan di setiap sudut kota Solo selalu terdapat penjual makannan/minuman, restoran mulai dari yang modern hingga tradisional dan warung-warung makan yang lain. Masih seputar dengan kuliner, Solo juga dikenal memiliki berbagai jenis oleh-oleh untuk para wisatawan yang datang. Setiap tempat wisata di Solo pun memiliki oleh-olehnya masing-masing. Dan salah satunya Kampoeng Batik Laweyan, yang dikenal juga memiliki oleh-oleh makanan yang khas. Walaupun dikenal sebagai sentra batik, namun rupanya di Kampoeng Batik Laweyan pun memiliki kuliner yang dijadikan sebagai oleh-oleh khas. Apem Dudy Laweyan, digadang-gadang menjadi oleh-oleh kuliner khas dari Kampoeng Batik Laweyan karena rasa dan penyajiannya yang otentik. Walaupun pada dasarnya Apem bukan menjadi makanan khas dari Laweyan, namun cita rasa dari Apem Dudy ini cukup menarik dan membuat sah-sah saja apabila Apem Dudy Laweyan menjadi oleh-oleh khas, khususnya di Kampoeng Batik Laweyan

apem dudy laweyan

Jika berbicara soal Apem, kita tahu bahwa apem merupakan salah satu jenis kue manis dari Jawa, yang dulunya dijadikan sebagai teman dari ketan dan kolak pada saat bukan Ramadhan. Dulunya apem dimasak pada tungku arang dan tanpa cetqakan, yang membuat bentuk apem jaman dulu cenderung lebih lebar dari apem-apem sekarang. Masih seputar apem, pada 2006 di tengah Kampoeng Batik Laweyan terdapat pengusaha yang bergerak dalam mengembangkan bisnis kue apem ditengah sentra batik terkenal di Solo. Dudy Setyawan adalah pengusaha apem yang dimaksud. Berangkat dari kepulangannya slepas merantau setelah lulus SMA, membuat Dudy ingin Kembali ke kampung halaman. Kemudian terlintas dipikirannya untuk membuat bisnis apem yang nantinya berharap dapat dijadikan oleh-oleh khas dari kampoeng Batik Laweyan. Forum Kampoeng Batik LAweyan pun mendukung mimpi Dudy tersebut. Kemudian setiap harinya Dudy dapat memproduksi 500 hingga 1000 apem. Agar hasil apem bisa tahan lama, Dudy pun mengubah adonan yang semula dari tepung beras menjadi tepung terigu. Dan agar memiliki otentik dari apem yang dihasilkan, maka Dudy membuat variasi baru pada produksi apemnya dengan memberikan keju, cokelat dan kacang mete.

apem dudy laweyan

Terjual laris manis dikarenakan harga dari Apem Dudy ini terbilang cukup murah. Mulai dari Rp 4.500 saja untuk apem klasik dan Rp8.500 untuk apem kismis. Toko Apem Dudy ini pun juga berada di Kawasan strategis, yakni di sebelah Langgar Merdeka. Apem ini dikatakan cocok sebagai buah tangan karena dapat bertahan 2-3 hari. Dan tak hanya sebagai oleh-oleh saja, namun Apem Dudy ini juga di setorkan ke beberapa warung, toko kue dan pasar-pasar tradisional. Bahan yang digunakan Dudy juga sangat khas, yeag membuat hasil dari Apem Dudy ini cocok manjadi pelengkap wisatawan yang ingin meninggalkan Kawasan Kampoeng Batik Laweyan. Proses masak yang menggunakan wajan khusus layaknya serabi, membuat hasil ape mini semakin menarik.

apem dudy laweyan

apem dudy laweyan

Tak heran, makan ini dapat menjadi faktor menarik tambahan di Kampoeng Batik Laweyan, karena nantinya wisatawan yang datang tak perlu risau untuk memikirkan oleh-oleh. Walaupun menjadi Kawasan sentra batik, namun oleh-oleh tak hanya berhenti seputar batik saja. Karena Apem Dudy Laweyan ini pun dapat menjadi pilihan yang tepat untuk wisatawan. Harga dan kualitas yang turut mendukung dari Apem Dudy Laweyan, membuat toko apem ditengah kampoeng Batik Laweyan ini masih sangat eksis dan menjadi jujukan wisatawan sebulum pulang.