Sempat Mengalami Masa Kejayaan, Beginilah Kisah Kampoeng Batik Laweyan di Tahun 1900 an

Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini Kampoeng Batik Laweyan masih menjadi sentra batik tertua di Indonesia. Terkhususnya di Kota Solo, yang pada saat itu memiliki lajur dagang yang cukup ramai, menjadi titik awal Kampoeng Batik Laweyan dapat eksis dan berkembang. Berawal dari batik tulis yang dilakukan beberapa Masyarakat sekitar, dengan rentan waktu pengerjaan yang terbilang masih sanagtlah lama karena menggunakan sistem yang masih sangat konvensional, namun citra Kampoeng Batik Laweyan masih sangatlah baik sebagai salah satu penghasil batik di Pulau Jawa. Namun, seiring berjalannya waktu masyarakat telah menemukan teknik baru dalam membuat batik dan mulai beralih dari yang awalnya menggunakan teknik batik tulis menjadi batik cap. Dan di tahap ini lah, masa dimana Kampoeng Batik Laweyan mulai berkembang, bahkan menuju masa kejayaan.

Batik cap seperti yang kita ketahui bersama merupakan teknik baru dalam membatik saat itu, dengan menggunakan cap atau stemple yang terbuat dari tembaga. Dengan ditemukannya teknik baru ini, Masyarakat merasa ini cukup efektif untuk menghasilkan satu lembar kain batik, dibandingkan dengan teknik batik tulis. Untuk itu, bagaikan memanfaatkan penemuan yang ada untyk meningkatkan efektivitas dan produktivitas dari pembuatan batik, maka masyarakat setempat mulai beralih menggunakan teknik batik cap. Walaupun masih ada pula beberapa masyarakat yang masih tetap menggunakan teknik batik tulis/ canthing dalam melakukan produksi batik seperti biasanya.
Dengan penemuan serta beralihnya teknik pembuatan batik dengan cap ini, rupanya produktivitas Masyarakat saat itu semakin meningkat. Kemudian dengan hal ini pula, mulai diberlakukannya jalur transportasi dari Kali Kabangan yang membuat makin pesat lajur dagang di daerah Laweyan. Tak hanya itu, namun di tahun 1900-an tersebut pun sejalur dengan pergerakan kemerdekaan Serikat Dagang Islam (SDI) yang menambah eksistensi dari keberadaan Kampoeng Batik Laweyan.
Seiring dengan masa kejayaan dari Kampoeng Batik Laweyan, mulai bermunculan lah pelopor-pelopor batik yang tersohor, dan bahkan nama nya masih sangat dikenang hingga saat ini, begitupula karya serta atefak-artefak sejarah budaya nya. Seperti salah satu nya yang paling dikenal adalah Tjokrosoemarto yang menjadi pelopor perkembangan batik tak hanya menyeluruh di kancah nasional, namun batik buatannya pun telah disebar hingga mancanegara di kala itu. Tjokrosoemarto menjadi salah satu juragan batik yang memiliki omzet terbesar di Kampoeng Batik Laweyan, Namanya semakin fenomenal karena industry yang dimilikinya di kategorikan sebagai industri batik terbesar di Kampung Batik Laweyan. Dan selepas itu, mulai bermunculan pula juragan-juragan batik yang lain, yang mulai mengikuti Langkah Tjokrosoemarto untuk dapat menyebarluaskan produksi batiknya hingga ke mancanegara.
Meniti hal tersebut, maka masa itu menjadi salah satu masa kejayaan Kampoeng Batik Laweyan. Dan dengan itu pula, nama Kampoeng Batik Laweyan mulai banyak dikenal Masyarakat luas. Dan bahkan sampai dengan saat ini, Kampoeng batik Laweyan sudah semakin mengembangkan sentra wisata nya menjadi lebih baik. Dan Kampoeng Batik Laweyan masih menjadi jujukan dari para pengunjung-pengunjung yang berwisata di Kota Solo atau mereka yang sekedar ingin belajar dan berbelanja batik.




